Singkat Obrolan di Atas Motor

 

(Ilustrasi interaksi hangan antara pengemudi ojek online dan penumpang/Foto/tangselpos.id)


Pernahkah kamu merasa seolah jalan yang sedang ditempuh salah arah? Duduk di kelas terasa bukan milikmu, mengerjakan tugas yang terasa asing, atau sekadar berpikir, "apa aku benar memilih jurusan ini?" Saya pernah. Bahkan perasaan itu datang bukan di ruang kuliah, melainkan di atas motor, ketika saya menjadi penumpang ojek daring di siang yang terik.


Awalnya hanyalah obrolan ringan antara sopir ojek online dan Saya. Sampai Sopir itu bertanya ke mana saya akan pergi, lalu jurusan apa yang sedang saya ambil. Tetapi dari pertanyaan sederhana itu, percakapan justru berubah menjadi semacam ruang renungan. Sebab dari balik helm hijaunyam ia mulai berbagi kisah hidupny yang tidak pernah saya sangka akan membuat saya berpikir ulang tentang perjalan saya sendiri.


Saya mengeluh singkat, "Kadang saya merasa kesulitan sendiri waktu ngerjain tugas, saya berpikir salah jurusan, kak." Ia tertawa kecil. seakan mengerti keresahan mahasiswa semester akhir. "Saya dulu malah kecemplung kerjaan yang sama sekali nggak saya ngerti, mba,"jawabnya dengan nada ceria namun memiliki arti di setiap kata yang ia lontarkan ke saya.


Namanya Erwan. Ia bercerita bagaimana suatu ketika ia melamar kerja tanpa tahu akan ditempatkan sebagai apa. Erwan hanya tahu gaji berapa yang akan ia dapatkan, jam bekerja, dan lokasi daerah tempat ia bekerja. Saat pertama kali masuk, ternyata ia ditempatkan di dapur rumah makan, menjadi seorang koki. Padahal, ia sama sekali tak punya kemampuan masak. 


"Boro-boro mba saya bisa masak-masakan rumahan, saya cuma bisa masaka telor, mie, air gitu," Erwan mengatakan itu dengan nada santai meskipun dirinya fokus mebawa motor melaju ke tujuan.


Hari-hari pertamannya bekerja, ia mengatakan penuh kebingungan. Salah bumbu, gosong, hingga bentakan dari senior sudah jadi makanan sehari-hari. 


"Awalnya pasrah. Tapi ya dijalani aja, belajar pelan-pelan. Kalau enggak, saya enggak bisa makan," katanya.


Saya bisa membayangkan betapa kerasnya dunia dapur itu. Bunyi wajan beradu dengan spatula, kompor menyala, dan suara orang berteriak menyuruh cepat. Di tengah hiruk-pikuk itulah ia belajar. Satu demi satu kesalahan jadi guru. Satu demi satu malam panjang jadi latihan. Lambat laun, ia terbiasa. Dari yang awalanya hanya ingin bertahan, ia akhirnya bertahana selama 15 tahun di profesi itu.


Kini, Erwan memilih profesi baru, yaitu mengendarai ojek daring. Ia sudah meninggalkan dapur, tapi tidak meninggalkan pelajaran yang ia dapatkan. 


"Kadang jalan yang kita kira salah, ternyata rezekinya di situ, mba. Kalau saya dulu nggak kecemplung sebagai koki, mungkin saya nggak bisa hidupin keluarga saya 15 tahun itu," ucapnya dengan tenang.

Kata-kata itu menancap di kepala saya. Saya yang tadinya merasa salah jurusan, seolah diberi kaca pembesar dan pengalaman dari orang lain yang lebih dulu merasakan hal yang sama seperti saya. Kalimat itu seolah menjadi pelajaran bagi saya saat itu. Saya berpikir perjalanan saya masih panjang. Apa benar ini salah atau hanya proses menuju sesuatu yang belum saya lihat?


Obrolan singkat di atas motor itu membuat perjalanan menuju halte terasa berbeda. Panas siang Bekasi mendadak tidak terlalu menganggu, karena pikiran saya lebih sibuk merenungkan wejangan dari seorang sopir ojek online yang pernah berpengalaman menjadi seorang koki.


Saya turun dengan wajah tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan melanjutkan langkah ke halte busway Pinang Ranti. Tapi dalam hati, saya tahu saaya tidak lagi sama seperti ketika naik motor tadi. Hidup rupanya bukan soal memilih jalan yang paling benar sejak awal. Terkadang kita justru "kecemplung" ke jalan yang terasa salah, namun kalau dijalani dengan sabar dan tekun, jalan itu bisa menjadi pintu rezeli yang tidak pernah kita duga.

Post a Comment

أحدث أقدم